SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN
Jalan Raya Panglegur KM.4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur, Telp. (0324) 327248, Fax. (0324) 322551
Website : stainpamekasan.ac.id | Email. info@stainpamekasan.ac.id
Mencetak Sarjana Muslim yang Kokoh dalam Aqidah, Unggul dalam Ilmu, Profesional dalam Karya dan Mulia dalam Akhlak
  • Duta STAIN Pamekasan Mengucapkan Selamat & Sukses UM-PTKIN 2017

PENDAFTARAN PM2 dan PMP2
JURUSAN TARBIYAH
DAFTAR SEKARANG...
STAIN Pamekasan Kini & Esok
POLLING
Apakah tampilan website ini menarik?
Ya
Cukup
Kurang
STATISTIK PENGUNJUNG
Online : 1 User
Total Hits : 652494 Hits
Hari Ini : 83
Kemarin : 1966
Bulan Ini : 51921
Tahun Ini : 238116
Total : 627493
GALERI VIDEO

Pesan dari "The Wild One"

Rabu, 14 Juni 2017

Oleh: Mabrurotul Haqiqiyah (Mahasiswi prodi Pendidikan Bahasa Arab STAIN Pamekasan) Beberapa hari yang lalu, Indonesia digemparkan dengan peristiwa penggerebekan sebuah ruko berlantai lima dikawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara yang digunakan sebagai tempat pesta gigolo atau kaum gay. Dengan desain ruangan yang begitu rapi, fasilitas memadai yang disediakan serta aturan-aturan khusus yang diterapkan sang fasilitator bagi setiap yang berkunjung ketempat terlaknat ini. Tak hanya sampai disitu, pada malam penggerebekan tersebut polisi menyita 141 orang gigolo termasuk pemilik usaha, pelayan serta anggota rumah biru tersebut. Ini merupakan angka yang fantastis untuk suatu negara yang mayoritas penduduknya adalah umat islam. Bahkan bisnis seks gay ditempat tersebut telah berlangsung sejak tiga tahun yang lalu. Fenomena ini, mengingatkan umat islam untuk kembali memutar sejarah kaum sodom yang telah Allah jelaskan dalam al-quran. Nabi Luth 'alaihissalam adalah seorang rosul yang Allah utus kepada kaum kota Sodom untuk memberikan peringatan kepada penyuka sesama jenis dan mengajak mereka kembali kejalan Allah. Tidak tanggung-tanggung, Allah menimpakan azab yang luar biasa untuk kaum terlaknat ini dengan hujan batu dari langit yang menghujani kepala-kepala dan tubuh mereka serta menenggelamkan mereka kedasar bumi. La haula walaa quwwata illaa billaah, tidak ada yang dapat menolak kedahsyatan azab dalam kekufuran dan kemaksiatan kepada Allah. Begitu terlaknatnya perbuatan ini, hingga Allah menimpakan azab senista itu bagi penyuka sesama jenis. Sebagaimana yang telah Allah kisahkan dalam al-quran: وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ “)Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al Araf: 80-81) Dengan fenomena ini, sejenak kita renungkan kembali, atas dasar apa frnomena ini melanda negeri kita tercinta dengan penduduk yang mayoritas beragama islam. Bukankah seharusnya dengan identitas ini, Indonesia menjelma sebagai negara pencetak generasi muslim yang berakidah dan berakhlaqul karimah? Rasa suka adalah fitrah yang Allah titipkan dihati setiap insan, dan untuk merealisasikannya, Allah memberikan jalan bagi setiap pemilik rasa itu dengan memerintahkan mereka menikah, namun jika tidak mampu maka Allah memberikan jalan yang sesuai dengan aturan syariat yaitu dengan menundukkan pandangan, berpuasa dan menjaga fitrah itu dengan tidak mengambil jalan pintas seperti halnya membina hubungan tanpa status atau berzina. Sebagaimana sabda rosulullah shallallahu alaihi wasallam : يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. ‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng). (HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi (no. 1087) kitab an-Nikaah). Permasalahan yang dihadapi generasi muda saat ini, adalah dimana saat mereka merasa jatuh cinta kepada orang lain, namun tidak bisa merealisasikan rasa tersebut dalam bingkai pernikahan, maka alternatif yang terlarangpun menjadi pilihan terakhirnya. Tak cukup sampai disitu, bagi mereka yang tidak bisa melampiaskannya terhadap lawan jenis, kerap melakukan tindakan-tindakan aneh yang dikenal dengan istilah onani dan lain sebagainya yang pada akhirnya berujung pada seks bebas sesama jenis atau yang populer dengan istilah LGBT. Terkadang angan dan nafsu manusia membawanya untuk menjadi orang yang melampaui batas dan mengingkari fitrahnya. Padahal Allah telah berfirman bahwa Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk berpasang-pasangan, bukan berpasangan dengan sesama jenis. Menghadapi tantangan ini, maka peran yang seharusnya sangat disadari oleh setiap pendidik, yakni menanamkan akidah islam yang benar sejak kecil terutama dalam pendidikan keluarga. Karena akidah dan tauhid, adalah pondasi yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman. Tauhid dan akidah yang benar adalah akar yang kuat dan akan menghasilkan cabang-cabang yang baik, sebagaimana Allah gambarkan dalam al-quran: أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim: 24-26). Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/lfhaqiqi/pesan-dari-the-wild-one_593061cc7097735c1a8b4569