SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN
Jalan Raya Panglegur KM.4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur, Telp. (0324) 327248, Fax. (0324) 322551
Website : stainpamekasan.ac.id | Email. info@stainpamekasan.ac.id
Mencetak Sarjana Muslim yang Kokoh dalam Aqidah, Unggul dalam Ilmu, Profesional dalam Karya dan Mulia dalam Akhlak
  • Pelepasan Mahasiswa Peserta PM 2 dan PMP 2 Gelombang II

  • Seminar Nasional "Prospek dan Tantangan Pendidikan IPS di Era Globalisasi"

  • Visitasi Kelembagaan STAIN Pamekasan Ke IAIN Madura

BACK TO PONDOK PESANTREN

Kamis, 7 September 2017

Suatu hal yang tidak terlepas dalam diskursus dunia pendidikan Indonesia sampai saat ini adalah diskursus Pondok Pesantren. Dan, diantara tujuan tulisan ini adalah hanya ingin mengembalikan ingatan kita (remembering), bahwa bangsa Indonesia yang mayoritas santri (secara general) merupakan bangsa yang harus tidak melupakan sejarah (atau istilah Bung Karno: JASMERAH). Kehadiran pesantren di Indonesia (sekaligus santri) tidak dapat dipungkiri lagi perannya. Di masa penjajahan, pesantren banyak terlibat langsung dalam melawan penjajah (Qomar, 2007: 23).


Santri merupakan istilah yang digunakan dalam menamai ‘penghuni’ pondok pesantren. Ciri mendasar santri adalah kemampuan mereka untuk bersikap sederhana, mandiri, adaptibilitas yang tinggi, ikhlas serta mempunyai kemampuan etos kerja yang tinggi. Mereka dididik dan bahkan di’gembleng’ untuk senantiasa nrimo (qanâah) terhadap segalanya.


Pesantren yang sejak berdirinya merupakan tempat untuk kaderisasi santri di segala bidang, mulai dari bidang politik, bidang ekonomi, budaya, intelektualitas dan hukum, -dengan melihat fenomena yang saat ini sudah banyak usaha dari beberapa kalangan untuk ‘memburamkan’ pesantren-, harus direbuilding dari semua sisi-sisinya, terutama sejarahnya. Tujuannya adalah agar pesantren dan santri bisa tetap memakai motto “al Muhâfadhatu ‘alal qadîmis shâlih”.


Dr. Soetomo adalah diantara jajaran tokoh-tokoh nasional yang pernah nyantri di sebuah pesantren Surabaya. Pasca menjadi alumni pesantren, beliau berkesimpulan bahwa pesantren merupakan wahana penggemblengan rakyat dan mental populisme kebangsaan(nasionalis).


Ki Hajar Dewantara –yang juga merupakan rujukan para tokoh pendidikan nasional atau bahkan internasional- berkesimpulan bahwa pesantren merupakan tipe ideal pendidikan nasionalis. Bahkan karakter kebangsaan (character of society) Taman Siswa –yang didirikan Ki Hajar Dewantara- menghubungkannya dengan dunia pesantren. Lebih ekstrim lagi, dalam banyak kasus para aktifis pesantren adalah juga aktifis Taman Siswa.


Kedua tokoh di atas merupakan orang-orang berpendidikan yang percaya bahwa pesantren merupakan lembaga non pemerintah (NGO) -atau meminjam istilah Gus Dur ‘pesantren sebagai institusi yang menggambarkan komunitas subkultur’- yang bisa membesarkan pemerintah dengan ciri khasnya sendiri. Ciri khas pesantren –menurut Ahmad Baso- adalah kemampuannya untuk memelihara serta menghargai leluhur, menghargai para ulama, para pejuang serta para pendahulu. Pesantren membantu anak-anak bangsa memelihara segenap memori kolektif bangsa ini dari masa lalu tentang kejayaan, segenap pengalaman berhadapan dengan bangsa-bangsa asing. Mekanisme itu dilakukan untuk memelihara tradisi, ritual, upacara dan segenap praktik-praktik kesenian, dan kebudayaan yang menghubungkan satu generasi ke generasi selanjutnya.


Tokoh nasional lainnya adalah KH. Hasyim Asyari (tokoh pendiri NU). Beliau pernah nyantri di pesantren KH. Kholil Abdul Latif Bangkalan. Beliau mampu –dengan ketokohannya- untuk merubah bangsa Indonesia –terutama warga nahdliyyin)- menjadi bangsa yang religius nasionalis populer.


Ada tiga hal yang sebenarnya menjadi daya tarik (medan magnet) pesantren sampai saat ini. Pertama, adalah sikap tawakkal (pasrah diri kepada Allah swt.). Santri yang sejak masuk sudah diajarkan dan bahkan ditanamkan rasa tawakkal ini merupakan bentuk eksplisit bahkan potret (kesederhanaan) riil masyarakat ‘kebanyakan’. Bentuk bahwa diantara kita masyarakat, kesehariannya tidak lebih baik dari keberadaan santri di pesantren atau bahkan lebih parah; kedua, adanya sikap insyirôhus syudûr (lapang dada), menerima kenyataan hidup yang ada. Pesantren merupakan wadah penggemblengan santri –atau meminjam istilah mini society –dari general of society masyarakat di luar pesantren; ketiga, adalah sikap Ikhlâsun niyyah atau sincerity for God (kemurnian hati mengerjakan apapun hanya karena hanya semata-sama diniati ibadah dan mengharap ridha Allah swt.). Apapun yang dilakukan santri di pesantren, sudah barang tentu didahuli niat yang baik tersebut. Karena bentuk kebaikan apapun yang dikerjakan, ketika tidak diniati hanya untuk mengharap ridha dan rahmat-Nya, maka hal itu merupakan hal yang sia-sia dan tidak bernilai baik atau dalam agama Islam tidak berpahala.


Tiga hal inilah yang menjadi daya tarik pesantren sampai saat ini serta masih tetap eksis dan diakui eksistensinya in the world. Wallâhu a’lam bimurôdihî.


* Affan, Tenaga Kependidikan Perpustakaan Pascasarjana STAIN Pamekasan (periode 2014-sekarang), (pemerhati Pesantren), email: affanafnani@gmail.com. CP: 082331243137.