SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN
Jalan Raya Panglegur KM.4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur, Telp. (0324) 327248, Fax. (0324) 322551
Website : stainpamekasan.ac.id | Email. info@stainpamekasan.ac.id
Mencetak Sarjana Muslim yang Kokoh dalam Aqidah, Unggul dalam Ilmu, Profesional dalam Karya dan Mulia dalam Akhlak
STAIN Pamekasan Kini & Esok
POLLING
Apakah tampilan website ini menarik?
Ya
Cukup
Kurang
AGENDA

Mar28

Seminar Nasional Lintas Divisi Hima Prodi PAI

08.00 WIB

Lapangan Selatn Perpustakaan

Mar17

DIALOG HUKUM NUSANTARA

07.30-Selesai

Ruang Auditorium STAIN Pamekasan

Mar21

Peringatan Hari Air Se-Dunia Dengan Tema Nafas Alam di Mata Air

21-22 Maret 2018

Ruang Auditorium STAIN Pamekasan

Mar14

Semarak Dan Festifal Himpunan Mahasiswa MPI

07.30-Selesai

Ruang Auditorium STAIN Pamekasan

Mar25

Konser Musik Whirama Mahecwara

19.00-Selesai

Ruang Auditorium STAIN Pamekasan

Studium General Jurusan Syariah Hadirkan Pakar Hermeneutika

Jumat, 9 Pebruari 2018

STAIN Pamekasan─ Dalam rangka menyambut perkuliahan semester genap, Jurusan Syariah menggelar Studium General dengan tajuk "Metodologi Istinbath Hukum Kontemporer dengan Pendekatan Tafsir" di Auditorium Center, pada Kamis (8/2/2017).


Selain dihadiri oleh kurang lebih 200 mahasiswa Jurusan Syariah, turut hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua (Waka) I Nor Hasan, Waka II Moh. Zahid, Maimun selaku Ketua Jurusan Syariah, semua Ketua Prodi, serta Ahmad Fawaid Sjadzili, eks Ketua Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT). Di hadapan para hadirin tersebut kemudian juga berlangsung penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) dengan Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (AIAT).


Sebagai jurusan yang menaungi beberapa Program Studi (Prodi), mencakup Ahwal as-Syakhsiyyah (AHS), Hukum Ekonomi Syariah (HES), Komisi Penyiaran Islam (KPI) dan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (IQT), kali ini yang dijadikan narasumber adalah Sahiron Syamsuddin, salah seorang pakar hermeneutika dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.


Ketua Jurusan Syariah, Maimun mengatakan, Studium General semester ini sengaja mengundang tokoh dari Yogyakarta. Hal itu, menurutnya, karena pelaksana acara adalah Prodi IQT dan pemateri narasumber yang pas tentang ke-IQT-an adalah Sahiron Syamsuddin. “Adalah beliau, yang kebetulan dari Yogyakarta. Bisa saja semester depan dari tempat lain, bahkan dari luar negeri,” ungkapnya.


Sahiron yang sekaligus merupakan Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga ini merupakan pemikir yang concern di bidang hermeneutika, dengan pendekatan Ma’na-cum-Maghza yang ditawarkannya. Pendekatan tafsir yang diakuinya sebagai hasil pembacaan komprehensif terhadap Ulum al-Qur’an dan metodologi Barat itulah yang kemudian dipaparkan dalam Studium General kemarin.


Di awal sesi, Sahiron mengatakan, Jurusan Syariah merupakan disiplin keilmuan yang banyak dikaji di berbagai belahan dunia. Tidak hanya di dunia Islam sendiri, diskursus keislaman seperti Pengantar Hukum Islam (Introduction to Islamic Law) dan Tafsir Al-Qur’an (Quranic Comentaries) juga banyak digandrungi di Barat, termasuk oleh orang non-Islam. Oleh karena itu, menurutnya, mahasiswa Jurusan Syariah tidak perlu khawatir ketika lulus. Mereka dapat mengembangkan bidang yang digelutinya meski di negara Barat sekalipun. “Jurusan Syariah itu adalah satu bidang ilmu yang memang dikaji oleh siapapun di seluruh dunia, yang tertarik tentunya,” tutur pria yang menjabat sebagai ketua Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (AIAT) Nusantara.


Menurut pemaparan Sahiron, pendekatan Ma’na-cum-Maghza merupakan model penafsiran yang mencoba merenggut makna historis ketika Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi, bagaimana Nabi memahaminya, untuk kemudian dikembangkan maknanya terhadap masa sekarang sesuai maqashid al-syari’ah-nya. “Ini yang harus kita lakukan dalam proses penafsiran untuk istinbat al-hukm (mengistinbat hukum, red.) pada masa sekarang ini,” terangnya.


Menurutnya, pengistinbatan hukum tidak semerta-merta dilakukan dengan memahami ayat secara atomistik atau melalui terjemah, namun dengan cara terlebih dahulu melakukan analisa bahasa, konteks sejarah dan kemudian memahami maksud (maqashid) ayat tersebut. “Istinbat al-hukm pada masa kontemporer, ya, harus memperhatikan itu semua,” tambahnya.


Acara tersebut berlangsung khidmat dari jam 08.00 s/d 11.00 WIB. Maimun berharap, Studium General kali ini menjadi warming up bagi mahasiswa menjelang aktif kuliah, serta menjadikan mereka bijak menyikapi persoalan sosial dan keberagamaan di zaman sekarang yang bernuansa kekerasan. “Yang setelah dianalisis faktornya bermuara pada kesalahan penafsiran atas sumber utama Islam,” pungkasnya. (Ahmad Khoiri)