SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI PAMEKASAN
Jalan Raya Panglegur KM.4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur, Telp. (0324) 327248, Fax. (0324) 322551
Website : stainpamekasan.ac.id | Email. info@stainpamekasan.ac.id
Mencetak Sarjana Muslim yang Kokoh dalam Aqidah, Unggul dalam Ilmu, Profesional dalam Karya dan Mulia dalam Akhlak
Petunjuk Pembayaran BRISklik disini
Cek Username & Password MABAklik disini
Cek NIM Bayarklik disini
Pendaftaran SMS Broadcast Info Kampusklik disini
STAIN Pamekasan Kini & Esok
POLLING
Apakah tampilan website ini menarik?
Ya
Cukup
Kurang
AGENDA

Nov21

MAULID NABI MUHAMMAD SAW TAHUN 1440 HIJRIYAH

11.15

Masjid Darul Hikmah IAIN Madura

Mar28

Seminar Nasional Lintas Divisi Hima Prodi PAI

08.00 WIB

Lapangan Selatn Perpustakaan

Mar17

DIALOG HUKUM NUSANTARA

07.30-Selesai

Ruang Auditorium STAIN Pamekasan

Politik Menggelitik

Kamis, 31 Mei 2018

Oleh: Unayyizaturrafiatul Aliyah Mahasiswi IAIN MADURA


Politik adalah satu kata yang tak asing lagi kita dengar dalam kehidupan bermasyarakat. Politik juga sering sekali dibahas di banyak tempat, tak memandang tingkat dan pangkat. Jika kita tinjau dari devinisinya, politik menurut Syekh Ibnu Aqil adalah segala aktivitas yang menimbulkan kemaslahatan serta dapat menjauhkan dari kemudharatan. Dari devinisi ini dapat kita simpulkan bahwa politik dalam islam sebenarnya tidak selalu tentang pemerintahan. Namun, segala bentuk perbuatan yang bisa mendatangkan kebaikan dan menghilangkan keburukan baik dilakukan oleh anak kecil, remaja, dewasa bahkan lansia. Itulah politik yang sesungguhnya. Lain halnya dengan politik menurut orang barat. Mereka mengatakan bahwa politik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia pemerintahan.


Nah, pembahasan kita kali ini bukanlah sebuah pembahasan berat ala orang barat. Semisal pembahasan tentang bagaimana cara agar bisa menjadi seorang politisi yang hebat dan berbakat atau bagaimana cara berpolitik dengan baik lengkap dengan taktik dan permainan-permainannya. Namun, mengingat kondisi kita (masyarakat Jawa Timur) yang rupanya sedang dilanda kebingungan yang mencekam terkait dengan pemilihan calon gubernur Jawa Timur yang akan digelar pada bulan mendatang. Ini yang mungkin harus kita atasi bersama.


Terkait dengan maraknya aksi bual politik yang nyatanya hanya ingin mempengaruhi masyarakat untuk mencapai kemenangan dan menduduki jabatan yang diimpikan, hal ini tentu akan sangat mengganggu dan mengusik masyarakat dalam memilah dan memilih yang mana yang berhak dan yang tidak untuk dipilih. Oleh karena itu, penulis hanya akan memberikan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Pemilik Suara (Pemilih) sebelum menentukan dan menjatuhkan suaranya kepada calon pemimpin yang baik sesuai dengan ajaran islam.


Sebagai generasi bangsa yang cerdas, sudah seharusnya kita agar lebih selektif dalam memilih pemimpin. Pemimpin bukanlah mereka yang hanya bisa foya-foya dengan jabatannya sebagai nahkoda. Nahkoda yang hanya mementingkan kebutuhan dirinya saja. Tidak menghiraukan bagaimana rakyatnya bersuara. Miris sekali jika pemimpin seperti ini benar-benar ada. Apalagi di negeri kita. Maka sudah saatnya kita seleksi bersama siapa yang berhak atas suara kita. Islam telah mengajarkan kita caranya. Agar tercipta cita-cita bersama, yaitu satu kata “sejahtera”.


Memilah dan memilih pemimpin ala Islam, pertama, pilihlan pemimpin yang beragama islam. Hal ini sudah jelas dalam surat Al-Maidah: 54 yang artinya:


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang yahudi dan nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya mereka itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim”.


Kedua, pilihlah pemimpin yang kita cintai. Pemimpin yang sesuai selera tanpa mengesampingkan kualitas. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist yang artinya:


“sebaik-baik pemimpin adalah orang yang kamu cinta mereka dan mereka cinta kamu dan kamu mendo’akan mereka dan mereka mendo’akanmu. Dan seburuk-buruk pemimpin adalah orang-orang yang kamu benci mereka dan mereka benci kamu dan kamu melaknat mereka dan merekapun melaknat kamu”. (HR. Muslim)


Ketiga, pilihlah pemimpin yang memiliki integritas dan kapabilitas. Ini yang perlu diperhatikan oleh kita agar tidak sekedar mencoblos. Namun sebisa mungkin kita juga hrus paham dan benar-benar mengetahui latar belakang calon pemimpin yang ada.


Ketiga kriteria di atas merupakan kriteria seorang pemimpin secara umum. Masih banyak lagi hal yang perlu diperhatikan untuk memilih seorang pemimpin dengan selektif. Seperti dengan cara Istikhoroh. Istikhoroh adalah jalan paling tepat untuk memilih siapa yang pantas dipilih menjadi pemimpin dan nahkoda bangsa.


Terakhir pesan penulis adalah kita (generasi bangsa) harus bisa meneropong dan mengkaji dari segala bahasa yang dicanangkan politik yang sangat menggelitik untuk lebih waspada meskipun telah disodorkan dengan janji-janji yang nyatanya hanyalah bualan semata. Sejahtera adalah impian setiap orang yang menghuni suatu negara. Hal ini tentu membutuhkan seorang pemimpin yang bisa mewujudkannya. Agar tidak hanya menjadi impian semata. Dan menjadikan rakyat sebagai korbannya. Sebentar lagi akan dihelat sebuah pesta bernama PILKADA sebagai pembuka. Hati-hati dengan pilihan anda semua. Tanyakan pada hati nurani kita. Karena hati nrani adalah suara yang tidaka akan mengkhianati kita. Jangan asal terperdaya pada suapan dan bualan yang fana. Pilihan kita adalah hidup sejahtera atau hancur seluruh cita-cita. Selamat berpesta.